KHITTAH.CO, MALANG — Sebanyak 36 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menuntaskan rangkaian Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah–‘Aisyiyah (KKN-MAs) 2026 setelah lebih dari sebulan mengabdi di wilayah Malang, Jawa Timur.
Penarikan kontingen Unismuh dilakukan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa, 1 September 2026. Hadir mewakili pimpinan Unismuh Makassar, Direktur Direktorat Sumber Daya Keuangan dan Aset Dr Sahabuddin Nanda, didampingi dosen pembimbing lapangan Dr Ir Muhammad Yunus Ali, MT, IPM.
Penarikan dilakukan setelah rangkaian KKN-MAs berakhir. Program tahun ini melibatkan 1.601 mahasiswa yang ditempatkan di 101 desa di Kabupaten Malang, dengan UMM sebagai tuan rumah.
Sahabuddin Nanda mengatakan, berakhirnya masa KKN bukan hanya menandai selesainya salah satu kewajiban akademik mahasiswa. Hal yang lebih penting adalah pengalaman sosial, kepemimpinan, dan pengabdian yang diperoleh mahasiswa selama hidup bersama masyarakat.
“KKN tidak boleh selesai hanya dengan penarikan mahasiswa. Yang kita harapkan adalah ada pengalaman, jejaring, dan nilai pengabdian yang dibawa pulang. Lebih baik lagi jika ada program yang manfaatnya tetap dirasakan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus,” ujar Sahabuddin.
Menurutnya, 36 mahasiswa yang dikirim Unismuh membawa identitas kampus sekaligus Persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, mahasiswa sejak awal dituntut menjaga nama baik institusi sekaligus menunjukkan bahwa ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
“Mahasiswa kita datang membawa nama Unismuh dan Muhammadiyah. Maka ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang dibuat, tetapi bagaimana mereka mampu beradaptasi, bekerja bersama masyarakat, dan menghadirkan sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Sahabuddin juga mengapresiasi kemampuan mahasiswa Unismuh membangun kolaborasi dengan peserta dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).
Menurutnya, jejaring yang terbentuk selama KKN-MAs merupakan salah satu hasil penting dari program pengabdian berskala nasional tersebut.
“Mereka bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan disiplin ilmu. Jejaring seperti ini merupakan modal yang sangat berharga. Setelah kembali ke kampus masing-masing, hubungan itu jangan terputus, tetapi dapat dikembangkan menjadi kolaborasi berikutnya,” ujarnya.
Mahasiswa Unismuh Ambil Peran Kepemimpinan
Kiprah mahasiswa Unismuh selama KKN-MAs terlihat antara lain di Desa Sidomulyo, Kota Batu.
Muh Fajri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Unismuh Makassar, dipercaya menjadi Koordinator Desa KKN-MAs Kelompok 82. Kelompok tersebut beranggotakan 13 mahasiswa dari 11 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Bersama anggota kelompoknya, Fajri menjalankan sejumlah program yang disusun berdasarkan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Salah satunya pemasangan 23 papan penanda berbahan kayu jati dengan ornamen bunga pada rumah perangkat desa dan ketua RW.
Ornamen bunga dipilih karena Sidomulyo dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil tanaman hias dan florikultura. Pembuatan papan juga melibatkan pengrajin lokal sehingga kegiatan tersebut tidak hanya membantu penataan informasi wilayah, tetapi sekaligus mengangkat identitas dan keterampilan warga.
Program lainnya menyentuh bidang pendidikan dan lingkungan, antara lain edukasi pengelolaan sampah kepada siswa, pendampingan belajar anak, serta penguatan dokumentasi dan profil digital.
Kelompok tersebut juga mengembangkan website Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sidomulyo sebagai media informasi dan dakwah digital.
Website itu tidak hanya diserahkan kepada pengurus ranting. Mahasiswa turut memberikan pendampingan agar pengelola lokal mampu melanjutkan pemanfaatannya setelah masa KKN berakhir.
Yunus: Mahasiswa Berhadapan dengan Masalah Nyata
Dosen Pembimbing Lapangan, Dr Ir Muhammad Yunus Ali, MT, IPM, mengatakan KKN-MAs memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.
Mahasiswa, kata dia, berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat yang sering kali tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan keilmuan.
“Di kelas mahasiswa belajar teori, konsep, dan metode. Di lokasi KKN mereka bertemu dengan persoalan nyata. Di situlah mereka belajar bahwa sebuah masalah sering kali tidak bisa diselesaikan sendirian atau hanya dengan satu disiplin ilmu,” ujar Yunus.
Ia menilai format KKN-MAs memberi nilai tambah karena mahasiswa Unismuh bekerja bersama mahasiswa dari kampus, daerah, dan disiplin ilmu yang berbeda.
“Mereka harus belajar mendengar, berkomunikasi, berbagi peran, dan mencari solusi bersama. Pengalaman seperti ini sangat penting karena dunia kerja dan kehidupan masyarakat juga menuntut kemampuan berkolaborasi, bukan hanya kemampuan akademik,” katanya.
Menurut Yunus, proses pengabdian juga melatih mahasiswa untuk tidak datang dengan asumsi bahwa kampus selalu mengetahui solusi atas seluruh persoalan masyarakat.
Mahasiswa harus terlebih dahulu memahami kondisi lapangan, berdialog dengan warga, membaca potensi yang tersedia, kemudian menentukan program yang realistis.
“Pengabdian yang baik bukan mahasiswa datang membawa program lalu masyarakat diminta mengikuti. Mahasiswa justru perlu mendengar masyarakat terlebih dahulu. Dari kebutuhan dan potensi yang ada, baru ilmu yang mereka miliki digunakan untuk membantu mencari solusi,” jelasnya.
Yunus berharap pengalaman tersebut dapat dibawa mahasiswa ketika kembali ke Makassar.
“Yang dibawa pulang bukan hanya dokumentasi kegiatan atau sertifikat KKN. Yang paling penting adalah cara berpikir, kemampuan bekerja dengan orang lain, dan kesadaran bahwa ilmu harus memiliki manfaat sosial,” ujarnya.
1.601 Mahasiswa Mengabdi di 101 Desa
KKN-MAs 2026 di Malang melibatkan 1.601 mahasiswa yang tersebar di 101 desa di Kabupaten Malang.
Ketua KKN-MAs Assoc. Prof. Akhmad Darmawan, Ph.D., dalam rangkaian penutupan menekankan pentingnya jejaring yang terbentuk selama mahasiswa berada di lokasi pengabdian.
Pengalaman tinggal dan bekerja bersama mahasiswa dari berbagai PTMA memberi kesempatan kepada peserta membangun hubungan lintas daerah dan perguruan tinggi yang dapat menjadi modal kolaborasi setelah kembali ke daerah masing-masing.
Rangkaian KKN di UMM ditutup melalui kegiatan di Hall Dome UMM, Senin, 31 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 4.000 mahasiswa dari berbagai skema KKN, meliputi KKN Berdampak, KKN Internasional, KKN Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan, serta KKN-MAs.
Lebih dari 190 Inovasi Dipamerkan
Salah satu bagian penting dalam penutupan tersebut adalah Expo KKN yang menghadirkan lebih dari 190 stan inovasi dan gagasan mahasiswa.
Beragam karya dikembangkan dari persoalan yang ditemukan mahasiswa selama berinteraksi dengan masyarakat.
Di antara inovasi yang dipamerkan terdapat prototipe lubang biopori multifungsi, alat penyebaran pupuk menggunakan pipa, hingga rocket stove yang dirancang untuk menghasilkan pembakaran lebih efisien dengan polusi lebih rendah.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan masyarakat tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Teknologi sederhana, tepat guna, mudah digunakan, dan sesuai dengan kebutuhan warga justru dapat memberi manfaat langsung.
36 Mahasiswa dari Lima Fakultas
Kontingen Unismuh Makassar dalam KKN-MAs 2026 terdiri atas 36 mahasiswa dari lima fakultas.
Sebanyak 23 mahasiswa berasal dari Fakultas Agama Islam, enam dari Fakultas Pertanian, empat dari Fakultas Hukum, dua dari Fakultas Teknik, serta satu dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Mahasiswa berasal dari sejumlah program studi, antara lain Teknik Pengairan, Teknik Elektro, Agroteknologi, Agribisnis, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Hukum Bisnis, dan Ilmu Pemerintahan.
Keragaman disiplin ilmu tersebut memungkinkan mahasiswa mengambil peran dalam berbagai bidang pengabdian, mulai dari pendidikan, keagamaan, pertanian dan ketahanan pangan, teknologi tepat guna, hingga pemberdayaan sosial dan kelembagaan masyarakat.
Ke-36 mahasiswa tersebut sebelumnya dilepas Wakil Rektor I Unismuh Makassar Prof Andi Sukri Syamsuri di Ruang Rapat Senat, Gedung Iqra Lantai 17, pada 23 Juli 2026.
Saat pelepasan, mahasiswa diingatkan bahwa mereka tidak sekadar berangkat mengikuti program akademik, tetapi juga membawa identitas sebagai duta Unismuh, Muhammadiyah, dan ‘Aisyiyah.
KKN Berdampak dan SDGs
Kiprah mahasiswa Unismuh dalam KKN-MAs sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, yakni mempertemukan pengetahuan yang dipelajari di perguruan tinggi dengan persoalan nyata masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya hadir untuk melaksanakan program, tetapi juga belajar mengenali persoalan, memetakan potensi lokal, membangun komunikasi dengan warga, serta mencari solusi secara kolaboratif.
Sejumlah program yang dijalankan juga berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Pendampingan belajar dan kegiatan edukasi kepada siswa mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Pelibatan pengrajin dan penguatan potensi lokal beririsan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Edukasi pengelolaan sampah dan pemanfaatan solusi tepat guna mendukung SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Sementara kerja bersama mahasiswa lintas PTMA, masyarakat, pemerintah desa, dan struktur Persyarikatan Muhammadiyah memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bagi Unismuh, penarikan mahasiswa di UMM pada Selasa, 1 September 2026, bukan semata penanda berakhirnya masa pengabdian.
Sebulan lebih berada di Malang memberi mahasiswa pengalaman tentang bagaimana ilmu bertemu kebutuhan masyarakat, bagaimana kepemimpinan dibentuk melalui praktik, serta bagaimana kerja lintas disiplin dan lintas kampus dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas.
“Kami berharap mahasiswa kembali ke Makassar dengan perspektif yang lebih matang. Mereka telah belajar bahwa keberadaan perguruan tinggi akan semakin bermakna ketika ilmu yang dimiliki benar-benar hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tutup Sahabuddin.
Kontributor: Bukhaerul Iman
Editor: Hadisaputra






















